Pekerjaan saya saat ini adalah pembuat software untuk platform web. Saya tidak tahu sampai kapan saya akan bekerja dibidang ini dan selama hampir 4 tahun bekerja secara profesional, ada beberapa hal di pikiran saya tentang teknologi.

Menurut saya, teknologi adalah integrasi antara hardware dan software. Sejauh ini, saya hanya bisa membuat software namun belum pernah bisa melakukan integrasi dengan hardware secara profesional.

Yang saya lakukan adalah hanya menulis kode, menjalankan kode dan melakukan debugging kode.

Di sinilah saya mencapai sebuah titik jenuh.

Saya sudah mencoba membuat sebuah software yang bisa digunakan untuk banyak orang dan berharap dari software ini saya bisa mendapatkan modal uang balik. Saat saya mencoba tes pada diri saya kemudian saya berpikir ulang lagi bahwa saya mestinya tidak perlu membuat software ini karena sudah ada software lain yang sudah memfasilitasi seperti Excel atau Spreadsheet.

Dari sini pula saya selalu berpikir untuk “membunuh ide” saya lebih dulu sebelum saya wujudkan dalam bentuk software.

Is that I need it? (Apakah saya memerlukannya?)

Why I need it? (Kenapa saya memerlukannya?)

Is there any software to solve my problem? (Apakah ada software yang bisa menyelesaikan masalah saya?)

Why I must create the same software? (Kenapa saya harus membuat software yang sama?)

Is that because of it doesn’t fulfill my need (their design, feature or ownership of database)? (Apakah karena tidak memenuhi kebutuhan saya (desain, fitur atau kepemilikan basis data)?)

Does I have a commitment to fill the data each day each hour each minute each second to that software? (Apakah saya memiliki sebuah komitmen untuk mengisi data setiap hari setiap jam setiap menit setiap detik ke software?)

If I create that software will I get the return (e.g. money) from the people? (Jika saya membuat software tersebut apakah saya akan mendapatkan uang dari orang-orang?)

Serangkaian pertanyaan di ataslah yang membuat saya berpikir untuk membuat sebuah software bila software yang sebelumnya sudah pernah ada.

Saat ini saya sedang dalam proses membuat sebuah produk (software) di mana orang atau segelintir orang mau berlangganan produk saya setiap bulan atau setiap tahunnya agar saya bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Saya cukup iri dengan segelintir orang yang sudah memiliki produk dan mereka bisa bertahan hidup dari penghasilan produk yang mereka buat. Ambil contoh Hilman Ramadhan punya produk Sekolah Koding dan Philip Young punya produk Stay In Session.

Saya berpikir lagi, jika saya tidak bisa membuat produk seperti yang mereka lakukan apakah saya…

  1. Membuat produk lain mungkin bukan software tetapi semacam jasa atau hiburan bagi segelintir orang. Seperti menulis cerita atau pengalaman, membuat konten video game petualangan Genshin Impact di YouTube lalu minta apresiasi via Trakteer.

  2. Kerja sampingan tetapi dengan cara mencari klien yang membutuhkan software. Mendengar apa yang mereka butuhkan dari sebuah software lalu membuatnya lalu dapat upah dari klien. Hmm, secara garis besar kelihatannya gampang tapi banyak “drama” dari seorang klien dan saya lebih senang memecat klien daripada saya yang dipecat klien.

Bekerja dengan klien itu ibarat saya harus “memaksa” diri saya mencintai “produk” mereka terlepas “produk” mereka jelek yang penting dapat uang. Ini yang tidak saya suka. Saya melihat diri saya sebagai pribadi yang independen

  1. Melihat proyek atau produk yang dikerjakan oleh sesama rekan software developer. Jika proyek atau produk mereka menarik dan menghasilkan uang serta memiliki visi yang sama dengan pemikiran saya maka saya akan mengajukan diri untuk bergabung dengan mereka dan belajar sebagai orang baru.